E-Mail: drpm@ui.ac.id

Phone: +62 857 7345 6196 Fax: (021) 7884 9119

Galeri Foto

Berawal dari penelitian menuju bakti pada pelestarian lingkungan hidup dan budaya

Upacara Peletakan Batu November 2016

Setelah ditentukan tempat dan tanggal yang baik untuk membangun museum, segera diadakan upacara peletakan batu

Pembangunan Bulan Desember 2016

Dimulailah kerja keras pembangunan dari masyarakat setempat, pondasi awal telah berdiri!

Kunjungan Riset Desember 2016

Lawatan tim peneliti dalam rangka peninjauan pembangunan dan untuk mempererat kerjasama

Simposium Seabad Pariwisata di Bali

Kolaborasi tim peneliti dan Lembaga Kajian Indonesia dalam rangkaian acara yang diselenggarakan oleh KEMENPAR RI

Pembangunan Bulan Februari 2017

Pembangunan sudah masuk tahap selanjutnya

Pembangunan Bulan Maret 2017

Pembangunan sudah masuk tahap penyelesaian

Upacara Adat Bangunan Museum Maret 2017

Perampungan pembangunan dan upacara adat untuk menyambut bangunan museum

Dokumentasi Pembangunan (Juli-September 2017)

Kelanjutan dari tahap penyeleseian

Galeri Video

This is a subtitle, feel free to change it!

MUSEUM SANGHYANG DEDARI

Desa Adat Banjar Geriana Kauh sebagai Desa Eko Wisata Sadar Lingkungan dan Budaya

Ketua Adat Desa Banjar Geriana Kauh, I Wayan Berata sedang melakukan sesi wawancara di tengah persawahan padi masa. wawancara di tengah sawah padi masa

padi masa sedang tumbuh

Padi Masa Desa Duda Utara Banjar Geriana Kauh

Pura di Desa AdatBanjar Geriana Kauh, di Desa Duda Utara merupakan salah satu desa kecil di daerah Karangasem, Bali. Masyarakat desa ini memiliki keunikan, khususnya dalam menghadapi ancaman alih fungsi sawah. Dusun Banjar Geriana Kauh yang menaungi 177 kepala keluarga, merupakan penduduk dusun yang keseluruhannya berprofesi sebagai petani. Serupa dengan berbagai daerah di Bali yang tengah mengalami penyusutan lahan-lahan sawah, dusun ini pun mengalami problem yang sama. Adapula kegagalan lahan pertanian mereka diakibatkan Revolusi Hijau pada masa Order Baru yang memiliki misi memodernisasikan pertanian

jalan menuju desa

Bersamaan dengan dihidupkan kembali ritual Sang Hyang Dedari, masyarakat dusun banjar Geriana Kauh merestorasi cara bersawah tradisional. Mereka meninggalkan pestisida yang dapat membahayakan tanah, dan menggunakan pupuk organik untuk menggemburkan kembali tanah yang pernah rusak. Pemulihan ekosistem termasuk mengembalikan belut dan biawak yang dapat membantu mematikan hama. Belut dan biawak sempat menghilang dikarenakan pestisida. Selanjutnya, mereka menanam benih padi alamiah, yang mereka sebut sebagai Padi Bodog atau Padi Masa dan berangsur-angsur meninggalkan benih padi hibrida. Mereka menyadari bahwa tanah merupakan energi kehidupan yang harus dijaga, jangan hanya dieksploitasi untuk menghasilkan panen demi manusia. Wawasan lingkungan hidup ini berhasil digiatkan kembali oleh Desa Adat, selama 1 dekade dengan menguatnya tradisi Sang Hyang Dedari, maka bergeliat pula kehidupan pertanian mereka.

persawahan di desa

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2017
error: Halaman ini diproteksi